Fenomena Mujahid Cilik di Irak
Setelah menyelesaikan sarapan dan mengganti bajunya, Muhammad, 13, berencana keluar rumah dan menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer. Bukan menuju ke sekolah ataupun bekerja. Namun dia bermaksud pergi menuju kamp pelatihan mujahid.
Sambil menenteng senapan model Kalashnikov dan sabuk yang dipenuhi peluru, setelah mencium sang ibu, Muhammad berpamitan. “Saya harus membantu para mujahid Irak untuk melindungi nyawa ibu dan saudara-saudara perempuan saya,” tegas mujahid cilik itu dengan nada tinggi.
“Ayahku tewas oleh serdadu AS di daerah pinggiran Ramadi, dua tahun lalu. Sejak itu, ibuku mesti berjuang untuk terus membesarkan kami,” cetus Muhammad sebagaimana dilansir IslamOnline.net.
Dengan demikian, Muhammad mengaku tergerak untuk membantu para mujahid menghabisi serdadu kafir AS dari tanah Irak dan dilatih merakit bom. “Para mujahid senior melatih kami untuk merakit bom dan mengajarkan bagaimana cara menggunakannya,” ujarnya.
“Seperti diriku, ada puluhan anak-anak yang bergabung. Beberapa diantara mereka dilatih untuk menjadi syahid. Pastinya, kita harus mempelajari pedoman-pedoman dasarnya,” kata dia lagi.
Intervensi Amerika Serikat (AS) ke Irak, tak pelak lagi, merubah Negeri Seribu Satu Malam itu menjadi sebuah ladang jihad yang memikat setiap Muslim untuk terjun di dalamnya. Tak terkecuali anak-anak di bawah umur. Mereka berharap merasakan indahnya syahid.
“Saya harus kehilangan tangan dalam sebuah serangan yang juga menewaskan kedua orangtua dan saudara perempuan saya,” kenang Bilal berkaca-kaca sambil merujuk sebuah serangan militer AS yang terjadi di Fallujah.
“Saya bersumpah akan melakukan serangan balas dendam kepada tentara AS. Saya ingin bertemu kembali dengan keluarga saya sebagai syahid dan pahlawan Irak,” tegas Bilal.
Dengan bangganya, dia menceritakan, beberapa waktu silam sukses mengoperasikan serangan yang menewaskan serdadu salibis AS. “Dua pekan lalu, bersama teman-teman sebaya, saya merayakan kesukesan besar. Kita berhasil menewaskan dua marinir AS di daerah pinggiran al-Qaim. Suatu saat, kita akan memukul mundur mereka,” tandas Bilal bersemangat.
Pejabat senior di Kementerian Pertahanan Irak Letnan Kolonel Ali Jaffar mengatakan, banyak serangan yang dilakukan oleh anak-anak. Fenomena ini memicu tanggapan dan kritikan dari lembaga swadaya masyarakat Barat. Mereka menyebutnya sebagai eksploitasi anak.
Namun Abu Ahmad, yang mengaku sebagai instruktur al-Qaeda, menampik hal tersebut. “Kita tidak pernah memaksa anak-anak untuk menjadi pengebom syahid. Kita hanya menginformasikan kepada mereka bagaimana mempertahankan negeri dari para penjajah dan memupuk semangat jihad,” bantah dia.
Terobsesi dengan jihad dan gagahnya seorang mujahid menenteng senapan, tak heran jika mayoritas anak-anak Irak mengidolakan senjata mainan sebagai mainan favorit mereka.
“Saya sangat menyukai mainan ini,” komentar Haider, 10, sambil mengacungkan senjata mainannya ketika ditemui Agence France Presse (AFP) di pinggiran kota Al-Shab, sebuah kawasan di sebelah timurlaut Baghdad.
Bahkan, tak sedikit bocah perempuan yang juga menggandrungi senjata mainan, dan bukannya boneka. Sandy, 11, misalnya, dia tidak pernah bermain dengan bonekanya. “Ketimbang boneka, dia lebih menyenangi senjata mainannya,” ujar sang ayah, Ibrahim, di rumahnya yang terletak di pinggiran Kota Karrada, sebelah barat Baghdad.

udah kecil jadi mujahid udah gede apalagi
“is kariiman au mut syahidan”
“Hidup Mulya Atau mati sebagai Syuhada”
Allahu Akbar
irpan, katanya minta coment ya…
iya tuh, kecil2 udah jadi mujahid yang cita2nya syahid.
apalagi udah gedenya……
seharusnya kita meniru semangat mereka dalam menegakkan syariah dan mempertahankan akidah mereka, jangan malah menghancurkan agama dengan menghancurkan diri sendiri seperti yang dilakukan oleh anak muda sekarang.
terus berjuang ya “pan gus”
KEEP ISTIQOMAH NYA’!!!!
mendapatkan syahid emang ga gampang………harus belajar dari sekarang……..jadi nunggu apa lagi……masa kalah ama anak kecil…………………………..d’chow
yang nulis dah berani syahid ga nie…?
Subhanallah…ga salah pilihan hidupnya?!!Bener kata Irfan Hilmi, pilihan hidup seorang Muslim hanyalah dua…”Hidup Mulia atau Syahid Kematian”. Tanamkan trus itu dalam jiwa-jiwa setiap Muslim, Insya Allah…Islam takkan pernah terbenam.AllahuAkbar…!!!!
allahu akbar
allahu akbar
allahu akbar
mari kita laksanakan jihad menurut alquran wa sunnah!
sodaraku foto antum sangat2 bertentangan dengan islam. itu namanya ikhtilat. haram hukumnya.
tetap semangat sahabatku….
ujian untuk umat islam semakin berat…..
kibarkan semangat jihad!!!
teruslah alirkan jiwa pesyahid,,! dan jangan pernah manangis ketika jasadmu terluka